Cerita Penyejuk Hati (Part 2)

Posted on Jan 5, 2013

Allah-Blog Netfori
Assalamu'alaikum sobat, salam sejahtera untuk kita semua. Sobat semua, saya akhirnya (dengan kehendak Allah) bisa share lagi cerita-cerita hikmah dari buku La Tahzan; Jangan Bersedih!  karangan Dr. 'Aidh al-Qarni.

Ada tiga karangan yang akan saya share kali ini. Untuk lebih jauhnya silahkan membaca dengan seksama.

Orang yang Tidak Mau Menerima,
Tidak Akan Pernah Diterima
Memberi-Blog Netfori
Sikap tidak menerima adalah pintu ke arah keresahan, kesedihan, kekacauan hati, dan prasangka yang tidak seharusnya kepada Allah. Sementara, sikap RIDHA akan melepaskan seorang hamba dari semua itu dan membukakan pintu surga dunia sebelum pintu surga akhirat. Ketenangan jiwa tidak akan tercapai dengan MENENTANG qadar dan MELAWAN qadha’, tapi dengan menyerahkan diri, tunduk, dan menerima. Yang Mengatur adalah Dzat yang sangat Bijaksana, tidak bisa dituduh melakukan kecurangan dalam qadha’ dan qadar-Nya.

Di sini saya teringat kisah Ibn Rawandi, seorang filosof yang sangat hebat namun tidak percaya kepada Allah. Dia hidup sebagai seorang yang fakir. Suatu hari, ia melihat seorang kalangan rakyat biasa yang bodoh. Ia pun menengadah ke langit seraya berkata, “Aku adalah seorang filosof DUNIA, namun aku hidup dalam kefakiran. Sedangkan orang BODOH ini hidup sebagai seorang yang kaya. Tentunya, suatu pembagian yang tidak adil. Dan, Allah tak lebih hanya akan menambah kejengkelan, kehinaan, dan kesempitan (di hatiku).” 

Dan, sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan.    (QS. Fushshilat: 16)


Buah dari Tidak Menerima Adalah Kekufuran

Sikap tidak menerima akan menghasilkan: KUFUR terhadap nikmat. Dan, sikap ini bisa menyeret seseorang  ke arah yang lebih ekstrim: kufur terhadap Yang Memberi nikmat itu sendiri. Ketika seorang hamba itu RIDHA kepada Rabb-nya, bagaimanapun keadaan yang melingkupi, maka itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada-Nya, sehingga ia menjadi orang yang RIDHA dan BERSYUKUR.

Ketika seorang hamba itu tidak bisa ridha, maka saat itu ia termasuk orang-orang yang tidak menerima dan berjalan di atas jalan-jalan orang–orang yang kufur. Adanya PENYIMPANGAN dalam kayakinan di hati dan agama, disebabkan karena seorang hamba hendak menjadikan dirinya sebagai tuhan, bahkan hendak mendiktekan keinginannya kepada Rabb.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului  Allah dan Rasul-Nya   
(QS. Al-Hujurat: 1)


Keridhaan Akan Menyingkirkan Hawa Nafsu

Keridhaan dan hawa nafsu TIDAK PERNAH menyatu di dalam satu ruang hati selamanya. Kalaupun keridhaan dapat mengambil satu ruang dalam hati dan hawa nafsu mengambil ruang yang lain, maka yang berkuasa adalah mana yang lebih kuat. 
Jika keridhaan ada dalam penjagaanku
Kan kukatakan kepada kantukku, ‘selamat tinggal’.
Dan, aku bersegera kepada-Mu. Ya, Rabb-ku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).
(QS. Thaha: 84)
Jika ucapan orang yang mendengki kami membuatmu senang,
Maka tak ada luka yang terasasakit jika engkau menerimanya.

Artikel Terkait :



Bagi yang merasa artikel ini menarik, dan ingin menyebarluaskannya dimohon bagi siapa pun yang ingin mengutip diwajibkan untuk mencantumkan kode link di bawah ini. Hargailah karya cipta orang lain. Terimakasih.